Marsiadapari ni Halak Batak



Penulis: Tansiswo Siagian.

Harus kita aku, bahwa Ompung kita dahulu luar biasa visioner. Bayangkan saja, ratusan tahun yang lalu sifat gotong royong sudah membumi di Tano Batak gotong royong. Yah, jauh sebelum Negara ini merdeka gotong royong sudah menjadi Law of Life orang Batak.  Gotong royong dengan sebutan marsiadapari mungkin diadopsi dari kata mar-sialap-ari  yang berarti, kita berikan dulu tenaga dan bantuan kita kepada orang lain baru kemudian kita minta dia membantu kita. Filisofinya sangat dalam sekali artinya tanam dulu baru petik kemudian.

Siadapari, atau apapun sebutannya sesuai wilayahnya seperti marsialapari, marsirimpa, atau marsirumpa sama maksudnya dengan gotong royong. Marsiadapari adalah kumpulan beberapa orang melakukan gotong royong secara serentak (rimpa atau rumpa) bergiliran atau bergantian di ladang masing-masing dari sebuah kumpulan tertentu. Dengan tujuan agar pekerjaan yang berat dipikul bersama hingga meringankan beban kumpulan. “Dokdok rap manuhuk, neang rap manea”/ berat sama dipikul, ringan sama dijingjing.

Implementasi marsiadapari tidak hanya pekerjaan/mangula di ladang “hauma” baik sejak mulai mencangkul, hingga panen/gotilon, tetapi dia merambah pada semua bidang kegiatan orang Batak, seperi mendirikan rumah (pajongjong jabu sibagandingtua), kemalangan/hamatean (marsitaonon), pesta unjuk dan lain sebagainya. 

Dan luar biasanya, marsiadapari ini tidak ada yang memilih-milih orang, miskin atau kaya, (namora manang na pogos), kuat atau lemah (na gumugo manang na gale) semua saling member hati untuk dapat meringankan beban anggota kumpulannya.

Itulah sebabnya ada sebutan “Si solisoli do uhum, si adapari do gogo” artinya, kau beri maka kau akan diberi, baik sikap ataupun tenaga juga materi. Dengan hukum ini, semua akan dengan senang hati akan bersama-sama memikul beban yang ada pada kumpulannya “tampakna do tajomna, rim ni tahi do gogona”. Yang berat terasa ringan yang ringan terasa tak masalah, semua senang dan bersemangat memberikan bantuan, sebab harapannya jika diapun suatu saat pasti membutuhkan yang lainnya.

Apakah marsiadapari itu masih hidup dalam kehidupan halak Batak dalam zaman modern ini?. Masih tetap eksis …..? benar masih melekat dan dilaksanakan hingga sekarang!!!.

Harus kita akui secara jujur, pelaksanaan marsiadapari itu tidak lagi seperti dulu hampir di setiap bidang kehidupan, itu semua karena zaman yang telah berubah. Misalnya, marsiadapari di ladang sudah sangat berkurang karena adanya traktor atau jetor serta mesin panen rontok padi.
Begitu juga misalnya saat membangun rumah, sudah lebih ekonomis diborongkan kepada tukang dibandingkan dengan gotong royong seperti dahulu. 

Tetapi……..pada kegiatan pesta adat, apapun jenis adatnya prinsip marsiadapari itu masih dilaksanakan dengan teguh, jika di desa tampak masih kental seperti jika ada acara adat seperti marhobas (mempersiapkan pesta).  Di kota maupun didesa  bentuk “manumpahi” member bantuan baik berupa uang atau beras serta memberikan ulos adalah bentuk marsiadapari meringankan beban yang melaksankan adat.


 Lihat juga pada kumpulan marga masih hidup perasaan sedarah “ samudar  atau parmudaron”, jika ada beban yang mempengaruhi martabat marga,  maka otomatis semangat kebersamaan dan marsiadapari akan muncul, melangkah bersama dan saling menopang  menanggung resiko bersama  “mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru”.

(Tulisan ini sudah pernah dimuat di Batakgaul.com)

Masukkan email anda untuk berlangganan artikel kami