MANGIRDAK. !!


Oleh : Tansiswo Siagian.  

Mangirdak adalah suatu acara dalam adat Batak, walaupun pada akhir ini sudah jarang dilakukan.  Sahabat naposo Batak mungkin jarang atau belum pernah mendengar jenis acara adat ini bukan?. Acara mangirdak dilaksanakan saat usia kehamilan pertama  seorang wanita yang telah menikah pada  bulan ketujuh, artinya  upacara adat ini dilaksanakan hanya  bagi kehamilan anak pertama “buha baju”.

Terlepas adanya perbedaan penyebutan dan  bentuk acaranya, Mangirdak pada dasarnya telah ada sejak zaman dahulu “ompunta sijolo tubu”. Artinya adat Mangirdak ini bukan mengcopy paste “manuman-numan” adat suku lain yang disebut Nujuh Bulani.

Dalam penyebutan nama  memang  ada perbedaan dan itu tergantung daerahnya, di suatu daerah di Tano Batak ada yang menyebut Mangirdak atau Mambosuri atau Manonggot pun ada menyebut Pasahat Ulos Mula Gabe, (itu menunjukkan kekayaan bahasa dan jenis tata laksana adat Batak kita itu).  Tetapi prinsip dan  pelaksanaannya  tetap sama, yaitu saat kehamilan mendekati melahirkan  “na naeng gok di bulanna”  yakni pada bulan ketujuh. Bagi kita yang penting adalah pemahaman makna dan hal apa yang bisa kita bisa petik dari adat tersebut.

 Lalu apa arti dan makna mangirdak bagi adat Batak?.

Mangirdak pada dasarnya dilakukan orangtua wanita (parboru)  di rumah borunya/anaknya yang sudah hamil tua dengan harapan agar borunya nanti ketika melahirkan (manubuhon atau hipas) anaknya, akan sehat, lancar dan tanpa beban apapun, “neang langkana jala hipas huhut sonang so hariboan ” 

Adakalanya parboru akan datang secara tiba-tiba kerumah borunya tanpa pemberitahuan terlebih dengan membawa makanan kesukaan anaknya (hasoloman ni  boruna) beserta ikan mas “dengke”, dengan harapan borunya yang sedang hamil akan merasa terkejut sekaligus bahagia atas kedatangan orangtuanya membawa makanan (bisa jadi inilah sebabnya ada yang menyebut  adat ini “manonggot”.

Setelah mereka berkumpul dengan tetangga borunya beserta kerabat dekatnya, maka parboru terutama ibunya  akan menghidangkan lalu memberikan makanan kesukaan borunya dan ikan mas “dengke” tadi, dan meminta borunya memakannya  atau bahkan ibunya menyuapinya makan  hingga kenyang “bosur”, (mungkin dari sinilah muncul kata “mambosuri” mengenyangkan). 

Dalam hal ini, siapapun belum bisa mencicipi makanan yang dibawa parboru sebelum borunya yang hamil tersebut mencicipi semua jenis makanan tersebut, sekalipun  suaminya.  Pada daerah tertentu seperti Tobasa sekitarnya pada saat seperti ini, parboru biasa, disamping membawa ikan mas dan makanan kesukaan borunya juga selalu menyediakan “hare” suatu penganan berupa bubur kental berwarna kuning  makanan khas daerah ini

Tetapi ada juga kedatangan “parboru” terlebih dahulu diberitahukan sebelumnya agar pihak menantu dan orangtuanya dan beberapa kerabat “paranak” menyambut kedatangan mereka. Pihak menantu (paranak) akan menyediakan daging lengkap dengan jambar/na margoar, dan parboru dengan beberapa kerabat akan membawa ikan mas “dengke” serta ulos. 

Ulos inilah yang disebut “ulos mula gabe” (mula ni hagabeon/ awal keturunan yang banyak), dan acara adat ini disebut Pasahat Ulos mula gabe. Dan ketika pihak parboru akan pulang maka pihak paranak akan memberikan sejumlah uang kepada pihak parboru dengan sebutan “marsituak na tonggi”.

Sahabat naposo Batak, lae dan ito saluhutna. Bagaimanapun bentuk acaranya, dan apapun sebutan nama adatnya, pada saat itulah parboru kepada borunya akan memberikan semangat, dan keyakinan agar borunya dapat menghilangkan rasa cemas  menanti proses persalinan. Juga memberi pemahaman tentang melahirkan dan merawat anaknya.

Dan tak lupa saat itu juga parboru akan menanyakan apakah ada perasaan tidak senang  yang menganjal perasaannya apakah masalah keuangan, perlakuan suami atau mengidam sesuatu makanan atau bentuk barang. Jelasnya apakah ada harapan dan  yang diinginkannya yang belum kesampaian “adong na ponjot di rohana dohot na hinirimna”. 

Jika hal itu ada, maka parboru dan pihak merrtua perempuan akan berusaha menuntaskan atau memenuhi itu agar jangan menjadi ganjalan dan penghalang saat borunya akan melahirkan nanti dan agar jangan  hal itu pula menjadi halangan hidup “hangalan” bagi bayi yang lahir setelah dewasa.

Intinya, acara adat mangirdak adalah suatu doa dan pengharapan agar wanita yang akan melahirkan anak pertama “buha baju” bisa berjalan lancar, sehat dan selamat baik sang ibu dan bayinya tanpa ada halangan apapun yang mengganggu proses persalinannya kelak. Serta anak yang dilahirkannya semoga menjadi anak yang sehat, dan anak yang membawa kebahagiaan buat orangtua dan keluarga besarnya. (diambil dari beberapa sumber)

 (Tulisan ini sudah pernah  dimuat dalam Batakgaul.com)

Masukkan email anda untuk berlangganan artikel kami