Gerakan Hamajuon Bangso Batak


Penulis : Tansiswo Siagian.

Orang Batak dikenal sebagai suku yang sangat dinamis, pekerja keras dan ulet dalam berjuang. Tetapi  oleh  perkembangan zaman dan pengaruh politik pembangunan yang kurang merata serta kondisi riil alam Tanah Batak  yang kurang mendukung pengembangan ekonomi, membuat orang Batak sejak sebelum kemerdekaan mulai ramai-ramai meninggalkan Bona Pasogit Tanah Batak mencari kehidupan yang lebih layak “mangalului panjampalan na lomak”.

Maka tidak heran jika Tanah Batak tertinggal secara ekonomi dan kemajuan lainnya dari wilayah lain di Indonesia. Sebab itulah muncul  gerakan “hamajuon” yang diprakarsai HKBP melalui Nommensen dengan membuat kompleks gereja dengan sebutan “pargodungan”  sebagai pusat iman, pendidikan dan kesehatan, untuk mendorong laju kemajuan naposo Batak untuk bangkit dari keterpurukannya melalui gerakan pendidikan.

Tetapi sayangnya, kemajuan pendidikan tidak diimbangi dengan kemajuan sektor sektor pendukung untuk menyerap naposo Batak yang telah berpendidikan beraktualisasi, akibatnya naposo Batak yang telah berpendikan harus hijrah/marjalang/mangaranto ke daerah lain untuk mendapatkan lapangan pekerjaan baru. Artinya, semakin orang berpendidikan, maka semakin tidak betahlah dia tinggal di Bona Pasogit, sebab tidak ada panggung bagi mereka yang telah mengenyam pendidikan untuk berkiprah di Bona Pasogit. Hal lain yang juga mendorong niat “mangaranto” karena lahan pertanian yang terbatas dan tanah yang mulai gersang “tungil”, membuat akses produksi sangat terbatas.
Maka satu-satunya cara untuk dapat keluar dari persoalan hidup (paimbar ngolu) yang semakin kompleks (so ada pandaraman) adalah keluar dari Bona Pasogit.

Tampaknya pilihan itu sangat tepat, terbukti perantau (pangaranto) yang keluar dari Bona Pasogit apakah berbekal pendidikan atau tidak, bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik di tanah perantauan. Apakah menjadi pegawai swasta, pegawai negeri, berdagang, atau membuka lahan baru di Timur (Sumatera Timur sebutan Sumatera Utara sekarang). Maka semakin menjadi pilihanlah keluar dari Bona Pasogit jika ingin berpenghidupan lebih baik.

Para orangtua pun semakin bersemangat mendorong anaknya agar menyenyam pendidikan yang lebih tinggi agar kelak  bisa meningkatkan derajat kehidupannya “panangkokhon ngolu” sekaligus menaikkan prestise keluarga “panangkok sangap ni natorasna”, tentunya harus keluar dari Bona Pasogit.

Roh pendidikan sebagai alat melepaskan diri dari keterbelakangan dan kemiskinan sekaligus agar lebih “sangap”/terhormat” semakin membumi di Tano Batak. Ini terbukti dari sejarah panjang pendidikan di Tano Batak yang mempunyai keunggulan tersendiri.  Semangat menaikkan derajat dan prestise keluarga (sangap) inilah yang mendorong naposo Batak berjuang dengan kondisi apapun di perantauan.  Dan sikap lebih dihormati seorang yang berhasil di perantauan dibandingkan dengan yang sukses di bona pasogit juga semakin memicu naposo, semakin “eksodus” dari Bona Pasogit.

Tidak dapat kita pungkiri, bahwa tidak semua perantau itu berhasil di rantau, tetapi itu pasti lebih baik daripada tinggal di Bona Pasogit dengan akses prosuksi yang terbatas. Bagaimanapun sulitnya kehidupan di rantau masih ada harapan suatu saat akan ada saatnya berubah nasib, daripada tanpa harapan kemajuan di Bona Pasogit.

Bahkan jangan heran, seorang naposo yang bekerja pada orang lain di Bona Pasogit dengan upah 2 juta rupiah sebulan akan lebih senang dengan gaji yang sama di perantauan. Semangat merantau ituakhirnya  menjadi suatu nilai tersendiri dalam nilai budaya Batak hingga saat ini.

 Gambaran sukses orang Batak yakni  “Hagabeon, Hamoraon, Hasangapon” kita sebut Trilogi Sukses Batak. Tetapi saat ini hal itu telah bias dan telah banyak bergeser pemahaman atas Trilogi Sukses Batak di atas, pemahaman itu menjadi sangat relative kalau tidak dapat kita sebut sudah makin kabur. Karena pada akhirnya, kekayaanlah “hamoraon” atau  “sinamot” yang menjadi tujuan utama dalam hal ini. Asa tangkas ma purba, tumangkasan ma Angkola, asa tangkas ma na maduma alai tumangkasan ma na mamora.

Tetapi sesungguhnya dalam filosofi dasar sukses/berhasil  “hamajuon” pada orangtua Batak adalah ketika nilai positif anaknya bisa lebih baik, lebih maju, lebih meningkat kwalitas nilai positif kehidupannya dari orangtuanya. Artinya jika nilai positif kehidupan anaknya sudah lebih baik dari orangtuanya maka orangtua tersebut sudah dapat dikategorikan berhasil. “Panangkokhon ma ianakhon sian natorasna”. Sebab anak kitalah yang harus dikedepankan, agar lebih maju mengharumkan nama orangtua “anak do sipajoloon siboan sangap tu na tuatuana”.

Misalnya, jika seorang naposo Batak, tamat sekolah hanya SMP maka minimal naiklah  setingkat pendikan anak, sedikitnya SMA. Atau jika orangtuanya seorang yang baik, terhormat dan memiliki nilai positif lainnya, maka harusnya lebih baik dan lebih terhormatlah anaknya. Tetapi jika orangtua tamat sarjana dan kerja yang bagus, tetapi anaknya hanya tammat SMA dan pekerjaannya/pendapatnya untuk menunjang kehidupannya menurun/rendah,  atau orangtua seorang yang punya nilai positif kehidupan yang baik tetapi anaknya malah sebaliknya, maka orangtua tersebut dianggap tidak berhasil. Sebab anaknya malah menjadi turun “pasuruthon sian natorasna”.

Dorongan “sukses” seperti di ataslah yang menjadi stimulan dalam diri orang Batak menjadi sangat visioner dalam berjuang dalam kehidupan seharihari terutama jika dia telah berangkat ke tanah perantauannya. Sebab jika keturunannya relative lebih maju dan lebih baik darinya maka sukseslah seseorang dalam hidupnya, tetapi jika keturunannya malah semakin surut nilai kehidupan dan kemajuan hidupnya maka orangtua tersebut telah gagal memajukan kehidupan anaknya ( ndang boi panangkokhon pangundut ni ngoluna).


(Tulisan ini setelah diedit dan  sudah pernah dipublikasikan di Batakgaul.com).

Masukkan email anda untuk berlangganan artikel kami