MARPARIBAN (tidak enak?)


Panggurit : Tansiswo Siagian.

Pariban atau boru tulang/anak ni namboru kata ini tentu sangat familiar di telinga kita orang Batak.  Begitu mendengar kata pariban  pasti akan teringat kepada gadis paman (boru ni tulang) atau membayangkan anak bibi (anak ni namboru). Sebab sejak kecil, kadangkala kita sudah digoda oleh orangtua atau family jika bertemu dengan pariban dengan godaan “pariban nih ye”, atau “paribanmu itu”.  Menunjukkan hubungan marpariban itu adalah  hubungan family yang khas dan istimewa. Menurut adat Batak marpariban memang suatu talian buhungan keluarga dekat  yang bisa saling menikahi.

Dahulu (atau bahkan ada juga sampai sekarang) jika seseorang pria sudah  pantas menikah maka  akan begitu mudah orang mengatakan “apalagi, nikahilah paribanmu itu” atau “paribanmu itu saja nikahi”. Seakan menikahi pariban itu begitu mudah dan  sepertinya ada hak khusus bagi yang marpariban. Bahkan sering kita dengar orangtua berseloroh ‘ larikan saja paribanmu itu’ (luahon ma paribanmi) atau jika paribanmu itu tidak mau menikah,  gendong saja bawa lari “manigor ompahon tu jabum”. Begitulah hubungan marpariban  digambarkan seperti sesuatu yang mudah, gampang dan ada melekat hak khusus  pada paribannya.

Tetapi  sesungguhnya  hubungan marpariban itu memiliki konsokwensi yang sangat berat dalam adat Batak. Marpariban jauh lebih tinggi beban moral dan psikologi yang ditanggung sebuah pasangan yang marpariban, sejak mulai berpacaran hingga menikah. Sesungguhnya tidak segampang dan semudah yang kita bayangkan.  Apakah  itu?.

Jika yang marpariban  kandung  berhubungan “margaul” kita sebut pacaran, orangtua kedua pihak mungkin akan wanti-wanti melarangnya atau minimal menasehatinya. Sebab jika pergaulan mereka semakin dekat tentulah  orangtuanya sangat berharap mereka kelak menikah.  Pengharapan yang tinggi kedua pihak orangtua akan membuat  sakit hati jika pengharapannya yang sia-sia maka akhirnya bisa kecewa karena telah berharap jauh (tarhirim). Pengharapan tersebut  akan berbekas di hati orangtua jika pernikahan batal, terlepas  siapa dan alasan apapun yang membuat yang marpariban itu berpisah.

Jika paman/tulangmu  atau namborumu sudah berharap kau jadi menantunya karena sudah kau awali berpacaran dengan anaknya, tetapi tidak jadi kau nikahi, maka tentu pihak tulang di satu sisi dan namboru  di sisi lain akan sakit hati, ada ganjalan dan rasa kecewa pada berenya/maennya tentu  dapat menimbulkan perpecahan ikatan hubungan darah, terlebih hubungan adat  abang-adik orangtua kedua pihak.

Bayangkan, pria mengecewakan boru tulang dan keluargan tulangnya, bagaimanakah perasaan tulangnya pada saat acara adat pernikahan berenya dengan gadis lain. Sebab pada acara adat tersebut peran Tulangmu sebagai pihak yang  bersama-sama dengan mertua adalah pemilik anak pada istrimu “sijalo tintin marangkup”. Pada saat itu bagaimanalah perasaan pihak keluarga Tulang?. Demikian juga misalnya  gadis mengecewakan namborunya, ketika sang gadis  menikah dan pada acara adat, dimana peran Namboru sebagai sihunti ampang dan sijalo upa parorot  bahagian dari dasar adat “suhi ni ampang na opat” . Tentu rasa kecewa akibat anak-anak mereka (na marpariban) sempat menjalin kasih dan diharapkan menjadi suami istri malah harus menikah dengan anak orang lain

Nah, uraian di atas masih dalam tahap pacaran. Bagaimana pula misalnya, jika yang marpariban  telah menikah tetapi kemudian bercerai. Wooww ini lebih gawat lagi.
Jika ini terjadi dampaknya sangat besar, panjang serta sulit diperbaiki. Sebuah ikatan adat yang diikat oleh hubungan darah akan membuat luka yang sangat dalam. Hubungan abang- adik (na mariboto) bisa putus  akibatnya, (gotap rahut-rahut ni holong  nang adat). Hal ini begitu sangat amat menyakitkan,  dan eksesnya bisa melebar dan panjang hingga waktu yang tak dapat dipastikan.


Itulah sebabnya, jika dua orang yang marpariban kandung diketahui  menjalin hubungan, kadangkala kedua orangtua  segera melarangnya karena bisa menimbulkan sakit hati jika kelak tidak jadi menikah. Atau, jika sepasang marpariban hendak menikah dengan paribannya, maka sudah pasti kedua pihak akan  mempertimbangkan serius kesungguhan anaknya menikah serta menyampaikan konsokwensi yang akan diterima kedua pihak keluarga jika kelak keluarga mereka tidak harmonis. Jadi?. Marpariban itu indah tetapi penuh konsokwensi, maka jangan sembarangan dengan paribanmu. Dan jangan anggap marpariban itu sepele.

Masukkan email anda untuk berlangganan artikel kami