Adat Manuruk-nuruk.

Panggurit: Tansiswo Siagian.
                                                                                
Jika seorang wanita  “mangalua”, diketahui atau tidak orangtuanya, apapun alasannya, pasti akan berbuntut panjang. Bisalah kelen bayangkan, tiba-tiba seorang  gadis  tidak lagi di rumah?. Apa kata orangtuanya, tetangganya, family dan kawan sekampung?. Atau apa kata dunia bro……….pasti heboh dan gempar. “Hilang seorang  gadis dari kelambunya atau mago anak boru sian bulusanna”. Gawat kali  kan?.

Sebelum mangalua, biasanya  gadis  sudah memberitahu rencananya  itu sama kawan dekatnya ( dongan sapodoman), bisa juga sama bibi (namborunya), atau setidaknya menyelipkan sepucuk surat  pada tempat  ibunya meyimpan beras yang biasa mau dimasak. Nah…jika tidak, apa tidak kacau kawan. Ibunya akan menangis meraung-raung “mangandungi” karena gadisnya  pergi entah kemana, yah hebohlah tetangga dan orang sekampung.

Maka tetua kampung  dan kerabat akan mengadakan rapat mendadak, memanggil teman gadis “dongan sapodoman” (jika ada), namborunya, naposo kampung.  Apalagi anak muda kampung “doli-doli”, akan kena marah sebagai penjaga gerbang kampung “siungkap harbangan” yang berkewajiban mengetahui  siapa masuk dan keluar kampung . Mereka akan ditanya dahulu apakah  mengetahui kemana sang gadis?.  Kemudian  bertanya kepada  “sisangkei hujur” (pemegang tombak ), penjaga keamanan kampung. Lalu  pariban (kakak gadis) dan  namborunya (bibi/tante).

Bila ada di atara yang ditanya tahu bahwa sang gadis telah mangalua dengan SIANU dan dari kampung  ANU, maka keputusan rapat memutuskan untuk menunggu suruhan keluarga pria tadi untuk memberitahu bahwa sang gadis sudah di”rajakan” dengan membawa “jambar daging” sebagai pertanda sudah dirajahon di tempat pria.

Baca Juga : ADAT DO NA GELLENG, ADAT DO NA BALGA
       
Jika tak seorangpun  mengetahui, maka tetua adat  akan  mengutus  beberapa orang  untuk mencari kemana dan sama siapa sang gadis kawin lari “mangalua”, orang inilah dalam adat Batak disebut “pangihut-ihut”, orang yang pandai berdiplomasi atau semacam detektif  gitu lho?.

Bila sang detektif “pangihut-ihut” , bertemu kampung dan rumah sang pria, mereka  akan bicara dengan paranak (konon katanya tidak perlu masuk rumah, cukup  berdiri di depan rumah). Maka biasanya “paranak” pihak  pria  akan menyampaikan rencana mereka, apakah hanya “dirajahon” artinya tidak melaksanakan adat, dengan mengatakan  “ro pe hami pabotohon molo dung huparaja hami borumuna”, atau  bila akan melaksanakan adat lanjutan , paranak akan mengatakan  kami akan datang  menanyakan hutang “ ro manomba dohot manungkun utang tu hula-hula I”. Dan “pangihut-ihut” ini akan diberi pihak paranak uang sebagai beli rokok dan ongkos pulang “ marsitimbaho dohot marsituak na tonggi”.


Jawaban paranak itulah disampaikan pangihut-ihut  di kampung. Maka semua kerabat dan orang sekampung akan tenang menunggu kedatangan pihak paranak apapupun rencana yang akan disampaikan..

Bila hanya mengantarkan jambar/ihur-ihur menandakan bahwa sang gadis telah diparaja (diberitahukan dengan orang sekampung pria dan kerabatnya) maka selanjutnya pihak paranak akan memberitahu kedatangan mereka “manuruk-nuruk atau panudu na tinangko”.

Pada saat manuruk-nuruk  pria dan wanita yang mangalua  bersama kerabatnya datang membawa makanan lengkap dengan daging dan jambar (daging yang dikerat sesuai aturan adat) ke rumah parboru. Setelah makan bersama, maka  tuan rumah pihak parboru akan menyakan maksud kedatangan paranak. Paranak  menyembah  memohon maaf telah “pajolo gogo so pajolo uhum” (mendahulukan niat  tanpa  mendahulukan hukum adat).

Maka pihak parboru akan menghukum pihak paranak untuk membayar sejumlah uang kepada “siungkap harbangan”, “sisangkei hujur”, dan “pangihut-ihut’ yang sudah kena marah dan capek atas tindakan mereka mangalua. Setelah itu barulah dilanjutkan adat kepada yang berkompeten.

Karena mereka sudah “manuruk tohang ni jabu” pihak wanta ( berjalan menunduk ke dalam rumah karena mengaku salah) dan” patuduhon na tinangko” (menunjukkan yang telah dicurinya) maka paranak harus siap didenda (dipautang) oleh raja adat atas kesalahannya. Yakni, memberi uang kepada “siungkap harbangan”, “sisangkei hujur” dan ‘pangihut-ihut” yang telah susah dan capek atas tindakan yang mangalua itu. Dengan membujuk dan menyembah (elek jala somba) maka pihak paranak akan menyampaikan permohonan maaf sekaligus kesiapannya didenda (dipautang) dan  lanjutan kewajiban adat lainnya.

Jika paranak hanya siap memberi tanda jadi mahar saat itu (patujolo ni sinamot), maka Adat itu hanya sampai adat dimana belum selesai adat perkawinan mereka. Dan kelak akan dilakukan adat na gok, (molo dung martumbur tolong rajanami, patupaonnami do adat nag ok tu raja i). Tetapi bisa juga pada saat itu lansung dibicarakan adat nagok yang akan dilakukan beberapa saat kemudian.                

(Tulisan ini telah pernah dimuat di Batakgaul.com)
.

Masukkan email anda untuk berlangganan artikel kami