MANGALUA ?



Panggurit : Tansiswo Siagian

Kata “mangalua” (kawin lari)  dalam adat  Batak bukanlah hal yang baru, kata itu bisa jadi sudah ada dan telah terjadi seumur dengan budaya Batak itu sendiri.  Dan bagi naposo Batak, kata ‘mangalua’ atau kawin lari bisa diartikan suatu tindakan pasangan naposo Batak untuk menikah karena tidak mendapat restu dari dan atau sepihak orangtua (ndang ditolopi natorasna).

Sesungguhnya  ‘mangalua tidak melulu karena masalah sinamot, tuhor (mas kawin). Tetapi ada juga karena hal lain, dimana orangtua kedua pihak tidak merestui pernikahan mereka dengan alasan yang berbeda-beda. Lalu bagaimana  pengertian  luas mangalua dalam budaya Batak?.

Mangalua  sesungguhnya tidak dianjurkan oleh kedua pihak orangtua jika masih ada ruang untuk berdiskusi kedua pihak lebih panjang lagi untuk mencapai kata sepakat. Tetapi jika kedua pihak tidak mendapatkan solusi atas perbedaan tersebut maka “mangalua” adalah jalan akhir atas perbedaan di atas. Tetapi dewasa ini mangalua lebih banyak akibat tidak adanya persetujuan dari pihak orangtua tidak lagi melulu akibatkan  sinamot dan biaya pesta.

 Di bawah ini ada beberapa penyebab mengapa mangalua harus terjadi dalam adat Batak .

1. Mangalua, karena besarnya sinamot dan bentuk pelaksanaan adat yang akan diadakan kedua pihak tidak mendapat kata sepakat,

2. Mangalua, suatu tindakan paranak agar memotong tata cara adat yang mengikuti suatu perkawinan sehingganya lebih ringkas, sekaligus memperkuat daya tawar pihak paranak kepada parboru atas sinamot dan yang lain dalam adat perkawinan anaknya. Maka bila wanita/sang gadis telah di bawah ke tempat paranak/pria maka pihak parboru lebih mudah “disomba dan dielek” membujuk pihak perempuan mengenai besarnya sinamot dan keperluan adat perkawinan lainnya,

3.Mangalua, karena segala cara telah dilakukan dalam pembicaraan adat perkawinan terhadap pihak parboru, tetapi tidak mendapatkan hasil apapun, maka tindakan mangalua dilakukan pasangan naposo tersebut untuk melaksanakan perkawinan mereka..

 4. Mangalua, dilakukan karena pasangan pria/wanita ini sejak berpacaran “marhamlet/mardongan” sudah tidak direstua kedua pihak orangtuanya. Dan sudah mereka duga bahwa jika pun diberitahukan kepada kedua pihak orangtua,  kedua pihak pasti tidak merestuinya.

5. Mangalua, atas seijin bahkan dianjurkan oleh kedua pihak orangtua paranak dan parboru karena faktor ekonomi kedua pihak yang sangat tidak memungkinkan melaksanakan adat perkawinan, dengan harapan segera tumbuh ekonomi pasangan tersebut agar kemudian dapat melaksanakan adat. “ anggiat humatop martumbur tolong, boi humatops manggarar adat na gok”

 6. Mangalua, dilakukan karena kedua pasangan naposo tadi telah melakukan hal yang belum pantas di luar nikah dan telah diketahui umum sehingga dianggap telah mempermalukan kedua pihak apalagi pihak wanita, biasanya wanita telah diketahui umum sedang hamil “ nunga mamuro pamoro ala naung teal buriran ni si boru”

7. Mangalua, yang tak jelas ujung pangkalnya.  Mangalua pasangan naposo Batak, tanpa alasan apapun, tidak pernah bergaul “mardongan”, tidak diketahui salah satu kerabat baik oleh pihak wanita maupun pria dan tidak tahu kemana mangalua dan kemudia tinggal dimana. Atau karena INSERT (pantang, atau suhar dalam partuturon)  Wah…..kalau begini  jelas tindakan amoral, jalang dan tak beriman. “na so maradat na so maruhum, jala na so marTuhan”.

Mangalua dalam budaya Batak berarti bisa sesuatu tindakan tabu,  tercelah dan memalukan semua pihak “na pailahon”, tetapi bisa juga malah dianjurkan dengan alasan yang melatar belakanginya namun bisa diterima masyarakat secara huhum, sosial dan adat.  


Tetapi apapun alasannya alangkah lebih terhormat lae dan itoku naposo Batak jika menikah sebisanya janganlah dengan mangalua. Sebab jikapun mangalua bukan berarti persoalan adat selesai. Bahkan akan diikuti konsokwensi   yang  melekat pada tindakan itu, dimana pria dan keluarganya  bisa ditudu “manangko boru ni halak” dan oleh itu akan dikenakan konsokwesi adat kepada mereka berdua dan atau pihak pria tersebut.  (dikutip dari berbagai sumber)  (#palambokpusupusu).

Masukkan email anda untuk berlangganan artikel kami