Perempuan bergelar "POLISI TOBA'


Penulis : Tansiswo Siagian.

Jika anda telah menikah dengan Perempuan Batak, maka jangan coba-coba untuk macam-macam, itu bisa sanagat berhaya sekali. Perempuan Batak sebagai “boru ni raja” adalah perempuan mandiri, tegar dan sangat tangguh dalam berjuang terlebih untuk keluarga dan anak-anaknya.  Perempuan Batak yang telah menikah dan punya anak  sering  digambarkan sebagai “batu ni sopo/rumah” batu penyokong  tempat berdirinya tiang rumah. Gambaran inilah yang menguatkan pemahaman bahwa jika sudah berkeluarga Perempuan Batak tidak sekedar istri yang melahirkan anak, tetapi dia menjadi tiang rumah tangga, menjadi manager keuangan keluarga “parsonduk bolon, sitiop puro, sisuhat sidabuan” yang bertanggungjawab mengatur sisi ekonomi keluarga.

Dia begitu sangat sentral dalam pengaturan ekonomi, dan sebagai “paniaran, soripada/tunggane boru” atau mitra utama suami dalam banyak hal seperti adat, persoalan keluarga dan marga, dimana kadangkala seorang istri harus mampu mengambil alih tanggungjawab suami dalam persoalan keluarga besarnya (na sapanganan), juga terhadap klan marga suaminya. Di samping kedua hal penting di atas, sebagai ibu yang melahirkan “pangintubu dan pardijabu”  dia berdiri paling depan memelihara  kesehatan, moral, iman dan pendidikan  anaknya untuk lebih maju kelak, “panangkokhon goar dohot sangap ni natorasna”.

Peran ini menempatkan  Perempuan Batak dalam keluarganya tidak bisa dipandang sepele, sebab dengan posisi itu Perempuan Batak siap dan mampu berjuang kadangkala hingga melebihi kodratnya sebagai perempuan, artinya mereka tidak melulu berharap atau  terlalu bertumpuh pada suaminya. Perempuan Batak biasanya mampu bangkit dan bertindak sendiri demi anak-anaknya dan dengan segala daya upaya berjuang mempertahankan keutuhan keluarga sekalipun dalam kondisi yang pahit. Sebab baginya, anak adalah segalanya yang harus diperjuangkan agar  bisa mengangkat harkat dan martabat keluarganya “anakhonhi do hamoraon”.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perempuan Batak, sebagai seorang istri perannya sangat luar biasa beserta daya juang dan tanggungjawabnya pada keluarganya. Karena itu jangan coba untuk menyepelekannya, sebab dia sanggup bertindak keras dan tegas atas sikap suami yang dianggap tidak mendukung semangat memperjuangkan anak “manjujung anakhon” agar kelak “ boi hasea pasangap natoras” sebagai harapan tertinggi orang Batak dalam hidupnya.

 Perempuan Batak bukanlah tipe wanita cengeng dan lemah apalagi dia tentu tidak mau hanya berpangkuh tangan dalam urusan mem[persiapkan anaknya mandiri. Dia sanggup marah pada suaminya bahkan murkah tak perduli situasi dan suasana jika dia menyimpulkan suaminya telah lari menlenceng dari garis perjuangan bersama.

Perempuan Batak bisa menjadi momok bagi suami yang kurang bertanggungjawab, dia bisa menjadi sosok yang menakutkan bagi suami bila melihat suaminya kurang mendukung kehidupan dan kemajuan anaknya. Perempuan Batak sebagai istri bisa begitu keras bahkan tidak perduli tempat dan waktu untuk marah pada suaminya jika dilihat sang suami kurang atau tidak mendukung sebagai Ama, Uluan, Tunggane doli yang mengayomi, menuntun dan memajukan kehidupan anak-anaknya dan keluarga.
Sebab itulah dia sering digambarkan dengan sebutan POLISI TOBA (Pol-Tob).

Sebutan ini menjadi sangat familiar bagi keluarga muda Batak dimana gambaran istri sebagai Polisi yang menjaga konsistensi  aturan dan pencapaian rencana yang telah disepakati bersama dalam sebuah keluarga Batak. Perempuan Batak sebagai istri dianalogikan sebagai Polisi yang sangat ditakuti manakala suami membuat suatu kesalahan dalam kehidupan sehari-hari terlebih kesalahan dan sikap itu akan merusak tatanan dan kehidupan keluarga dan anak-ananknya. Jika seperti ini, perempuan Batak akan muncul ke depan sebagai Polisi yang menegakkan hukum dan aturan  serta harapan rumah tangganya.

Naposo Batak, jangan pernah coba-coba untuk macam-macam berhadapan dengan istri “boru ni raja parsonduk bolon na burju I” sebab adakalanya dia berubah seperti Polisi yang keras dan tegas menghadapi siapapun yang melanggar aturan dan hukum yang berlaku. Maka sebagai orang Batak, jangan sepelekan istrimu.   “AWAS POLTOB”.


(Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di Batakgaul.com)

Masukkan email anda untuk berlangganan artikel kami