Maradat “YES”, Marpesta “PIKIR DULU"




Naposo Batak  pada saat ini banyak  yang kurang sreg  dengan Adat Batak, dalam pikirannya Adat Batak itu boros,  biaya tinggi, ribet, bertele-tele dan makan waktu banyak. Who…pemikiran seperti  itu bisa benar dan  bisa salah. Tak dapat dipungkiri saat ini, mayoritas naposo Batak baik di desa maupun di perkotaan menjadi hilang ‘syoor”nya, bahkan ketakutan membayangkan adat Batak. Wajar, sebab baginya adat Batak itu menjadi sebuah beban hidup yang memberatkan, terlebih bila dia akan menikah dengan boru Batak, karena dalam pekirannya adat itu biayanya sangat besar.
Menganggap adat Batak itu memberatkan secara ekonomi  dapat dilihat  mulai perlengkapan pakaian, dan aksessoris dalam acara adat itu, seperti musik dan member uang kepada semua kerabat yang bernama dongan tubu,  hula hula, saat manortor  pada pesta tersebut.  

Dalam pikirannya adat Batak itu menyita banyak waktu, dimana tata caranya bertele-tele, belum lagi fameo boru Batak mahar “sinamot”nya sangat besar, ditambah biaya pestanya yang ‘amang oi” selangit. Maka tidak mengherankan adat Batak buat sebahagian naposo Batak menjadi momok yang menakutkan “mabiar” menikah secara adat Batak.

Sesungguhnya adat Batak itu sangat moderat dan menyenangkan semua pihak. Adat Batak bisa begitu fleksibel dan tidak memberatkan. Itu sebabnya ada umpasa Batak mengatakan “ Sinuan bulu, sibahen na las. Sinuan partuturon sibahen na horas”. Horas  dalam konteks ini adalah usaha untuk menyenangkan semua pihak, tidak menekan satu pihak, atau memaksakan kehendak sepihak, atas tata cara dan  biaya adat itu. Tetapi  mencari solusi atas banyak perbedaan dan kekurangannya. “Aek godang tu aek laut, dos ni roha do sibahen na saut”, urun rembuk, diskusi dan saling memahami mencari kesepakatan bersama, itulah kuncinya.

Jika pun misalnya pihak lelaki disebut “paranak”  atau sebaliknya pihak perempuan “parboru” kurang berkeadaan “ parsinamot na godang” , maka tidak boleh satu pihak memaksa pihak lain sepakat atas keinginannya sendiri, tetapi pihak yang lebih marsinamot( paradongan) apakah itu parboru atau paranak, haruslah melihat kondisi ekonomi keluarga yang segera menjadi “tutur”/familinya. Itulah dalam umpasa Batak disebut     “jamot songon siida hutu, manat songon si ida gomit, atau ndang diida mata alai diida roha”. Dengan begitu muncul rencana “mangondihon” atau membela/melindungi calon menantu ( hela atau parumaen) dan keluarganya yang segera menjadi kerabat “tutur, tondong” selamanya ke hari depan.

Lalu mengapa saat ini banyak tuduhan yang mengatakan bahwa adat Batak itu memberatkan, ribet dan tuduhan negative lainnya. Wooww santabi kawan. Buat lae, itoku naposo Batak, yang kalian lihat saat ini bukanlah utuh (polin) adat Batak, tetapi adat Batak yang telah beradaptasi dengan kondisi jaman. Sebahagian  telah disusupi  nilai komersial akibat pengaruh perubahan jaman dan bergeraknya pelaksanaan adat menjadi pesta. Hal lain akibat mengadopsi hal-hal lain di luar adat Batak yang sesungguhnya. “Adat naung ni adathon” artinya menjadi adat karena telah berulang diterima tanpa koreksi.

Yang lebih parah, adat Batak saat ini ada yang telah bergeser  menjadi panggung pertunjukan bagi suhut menunjukkan kekayaan dan kehormatannya “hamoraonna, dan hasangaponna” bahkan ada juga disebut “manuhor  sangap” (membeli penghormatan), sehingga sering memaksakan diri untuk melaksanakan Pesta yang wah. Pergeseran melaksanakan Adat (maradat)  menjadi  Pesta (marpesta) itulah yang menjadi memberatkan secara ekonomi.

Lae, dan ito. Kunci terpenting adat Batak adalah Kasih “HOLONG”. Jika holong sudah tumbuh antara calon pasangan Batak, maka pada pihak calon besanan (marhula-hula -boru) pun muncullah kasih.  Karena sudah diikat kasih, “diihot holong” kedua belah pihak, maka atas nama biaya, atas nama tuhor/sinamot, atas nama adat yang membahagiakan dan kehormatan (sangap) akan dapat titik temunya untuk tidak saling memberatkan. Sebab Ompunta na parjolo sudah memesankan “adat do na gelleng, adat do nang na balga” artinya adat itu bisa kecil, juga bisa besar sampai “marmengo-mengo” dengan tambahan pernak pernik di luar ketentuan  dasar adat Batak itu sendiri.

Maka jelas sudah, sesungguhnya Adat Batak  itu dapat mengakomodir yang miskin dan yang kaya   dalam pelaksanaannya. Persoalannya, apakah kita ingin  melaksanakan ADAT BATAK sesuai dasar adat Batak itu atau berpesta besar menunjukkan hamoraon dan hasangapon atapun bahkan memaksakan diri berpesta ria demi sebuah gengsi dan harga diri/hasangapon  semu?.  
( Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan pada Batakgaul.com)

Masukkan email anda untuk berlangganan artikel kami