Adat bukan Pesta?



Penulis:TansiswoSiagian

Semua  suku di dunia ini pastilah memiliki adat masing-masing. Pasti pula mereka bangga dan selalu menghargai  adat kebanggaannya itu. Tidak terkecuali adat Batak yang kita banggakan itu. Dan kita semua  pasti paham bahwa orang kaya “mamora/paradongan” dan orang  miskin”na pogos” pastilah ada pada semua suku dan semua bangsa,  dan kondisi kemiskinan “hapogoson” bukanlah suatu pilihan, hal itu adalah takdir yang tidak selalu bisa kita tolak. Sebab kaya dan miskin adalah suatu keadaan yang dipengaruhi oleh banyak faktor dan kondisi yang beragam.


Dalam perjalanan Adat Batak dari sejak dahulu “na jolo” dibuat dan dilaksanakan nenek moyang kita “ompunta na parjolo” sudah memikirkan jalan terbaik atas pelaksanaan adat pada perbedaan tingkatan sosial tersebut. Adat Batak itu fleksibel tidak kaku dan saling bisa memahami, baik antara yang miskin dengan yang kaya.


Misalnya, katakanlah jika seorang pria yang ekonominya lemah mau menikahi wanita dari keluarga kaya, karena mereka sudah saling mengasihi “marsihaholongan”, maka sesungguhnya pihak wanita tidak bisa memaksakan sepihak “sinamot”/uhor” atau mahar serta acara adat yang mau dilakukan selaras dengan keinginan dan kemampuan pihak wanita. 

Pihak wanita pasti akan hati-hati sekali meminta mahar “manggoli sinamot” kepada keluarga pria “paranak” sebab  ada peripahasa/umpasa mengatakan “ molo balga binanga, balga ma nang dengkena” artinya jika sungainya besar maka besar pulalah ikannya, kiasan ini mengartikan, jika ekonominya kecil tidak mungkinlah mampu menanggung biaya yang besar untuk adat.  Pengertian  ini tidak hanya ditujukan kepada  keadaan pihak wanita tetapi juga  diarahkan kepada pihak pria atau sebaliknya.


Karena  rasa cinta kasih antara pria dan wanita “togu marsihaholongan” sebagai landasan suami istri membentuk rumahtangga, maka kedua pihak keluarga besar calon mempelai  haruslah berembuk terlebih dahulu secara terbuka dan pihak wanita juga harus dapat merasakan “mandodo” kondisi  pihak pria atau sebaliknya, sehingga bisa mendapatkan jalan terbaik dalam pelaksanaan adat yang akan dilaksanakan. Dimana, pihak wanita tidak lagi menuntut mahar “manggoli sinamot” atau “tuhor”  kepada pihak pria yang tidak sesuai dengan kemampuannya,  serta tidak menuntut acara adat yang besar yang memberatkan pihak pria tersebut.


Dalam hal ini, pihak paranak harus pada posisi menyembah dan memohon “somba jala peak hatana” agar pihak wanita menyetujui permintaan paranak sesuai kemampuannya. Jika pihak wanita sudah sepakat atas kondisi ini, maka pihak pria pun tidak bisa berharap apalagi meminta bawaan wanita seperti “pauseang” dan lainnya, kecuali pihak wanita memberinya secara iklas dan sukarela.

“Manggoli sinamot” (mahar) dan acara adatnya dalam Adat Batak, adalah sesuai dengan kemampuan kedua pihak.


Dengan dasar mereka sudah teguh saling mencintai “togu marsihaholongan”, maka sekalipun ada perbedaan sosial yang satu dengan yang lain, kaya dan miskin, jika kedua pihak “paranak” dan “parboru” mengedepankan kasih “holong” maka subtansi perbedaan itu bisa dieliminir sehingga tidak sampai saling memalukan “marsipailaan”.


Sebab, prinsip sahnya adat perkawinan orang Batak bukan pada besarnya “sinamot” ,  bukan pula pada banyaknya tamu yang menghadiri acara adat tersebut, tetapi pada aturan dasar adat itu dimana adat Batak  itu dikatakan sah jika sudah dihadiri dan disetujui oleh para pihak yang berkompeten yakni “suhi ni ampang na opat” dari kedua pihak.


Lae dan ito sekalian naposo Batak, sekali lagi kata kunci sahnya adat batak bukan pada banyaknya yang hadir dan pesta yang wahh, tetapi  jika sudah disetujui dan dihadiri oleh “suhi ni ampang na opat” kedua pihak, terlepas apakah adatnya dihadiri oleh 50 orang atau 2000 orang,tidak lagi penting. Sebab, adat do na gelleng, adat do na  balga.


Jadi kaum naposo Batak jangan alergi dulu tentang adat Batak, sebab dia sangat fleksibel dan selalu ada solusi jika kedua pihak ada niat menyatukan persepsi “ rade pados tahi hasuhuton bolon”.

 Maka jika memang kamu kurang mampu secara ekonomi dan berencana mau menikah dengan sesama orang Batak, kalian berdua harus mampu mendorong kedua orangtua untuk dapat berembuk dalam kasih mencari solusi terbaik,  jangan buru buru berencana kawin lari “mangalua”.


Sebab sekalipun saat ini dalam adat Batak tidak ditabukan mangalua, tetapi jauh lebih baik perkawinan itu dilaksanakan secara baik-baik mengikuti aturan yang baik dan melewati tahap adat perkawinan yang benar sesuai aturan baku dari adat Batak kita yang mulia itu. (#palambokpusupusu).


(Tulisan ini telah diedit dan sudah pernah dipublikasikan di Batakgaul.com)

Masukkan email anda untuk berlangganan artikel kami